Cerpen Kritik; Langkah; Artikel; Kontak; Privacy Policy; Disclaimer; Terms and Conditions November 2, 2018 Inspiratif 2,067 Views Senin, awal tahun ajaran baru. Sekolah baru. Kota baru. Ini adalah hari pertama aku masuk SMA sekaligus menjadi minggu pertama di kota ini. minggu lalu aku dan ibu baru pindahan rumah. Dan ini sudah yang ke-3 kalinya aku pindah rumah dan kota. Ibuku adalah seorang single parent, setelah bercerai dengan ayah karena KDRT setahun yang lalu. Ayahku seorang pemabuk dan krimanal, aku tidak tau kenapa ibu mimilih dia sebagai teman hidupnya. Aku kasian pada ibu. Sendirian mengurus aku dan adikku tanpa merasa lelah. Ibu bekerja sebagai buruh pabrik. Di kota sebelumnya dia harus putus kontrak kerja karena sering izin mengurus adikku yang sering sakit. Dan sekarang dia mendapatkan pekerjaan baru di salah satu pabrik di kota ini. mudah-mudahan dia bisa menjadi pegawai tetap di sana dan kita tidak harus pindah rumah lagi. Sebenarnya aku malas jika terus beradaptasi dengan lingkungan baru dan teman baru. Dan karena itu juga aku jadi tidak punya sahabat. Kemudian sekarang aku berniat untuk mencari pekerjaan sambilan untuk membantu ibu mencari uang. Selesai upacara kami pun segera masuk ke kelas masing-masing. Dan saat masuk kelas sudah ada Rainita di sana. “Hai, Almira. Sini!” panggil Rainita. Rainita adalah teman sebangku ku yang baru aku kenal sebelum upacara tadi pagi. Kami duduk dibarisan paling depan agar mudah menangkap pelajaran. Di sela-sela waktu sebelum pelajaran mulai karena guru belum datang kami banyak ngobrol. Aku bersyukur bisa satu bangku denganya. Nita orangnya sangat supel dan mudah bergaul jadi aku bisa cepat dekat denganya. “Nit, kamu ada info cari pekerjaan sambilan nggak?” tiba-tiba saja topik itu hinggap di sela obrolan kami yang ngalor ngidul itu. “Hmmm, kalau mau Nita punya paman yang punya tempat makan gitu, kamu bisa jadi pencuci piring atau pramusaji di sana. Paman biasanya buka restoran di sore hari sampai malam jadi kamu bisa selesai sekolah langsung kerja di sana cuma pasti bakal capek banget Mira.” Jawab Nita “Kalau mau nanti Nita antar ke sana pulang sekolah ya.” lanjutnya Pucuk dicinta ulam pun tiba, seperti mendapat durian runtuh aku mendapat kabar itu. Langsung saja aku ambil kesempatan itu. “Terima kasih Nit, kau baik banget padahal kita baru kenal” “Nyantai saja Mir, kita saling bantu saja.” Jawabnya sambil tersenyum. Guru pun sudah datang dan pelajaran segera di mulai. Aku sudah tidak sabar ingin segera menemui paman Nita dan bisa bekerja di sana. *** Dengan bantuan Nita akhirnya aku bisa bekerja di restoran pamannya yang berada di pusat kota. Memang restoranya setiap hari selalu ramai. Hari-hari sebagai pegawai restosan aku jalani sekarang. Awalnya ibu tidak setuju aku bekerja sambilan lebih baik fokus sekolah tapi aku memaksa agar bisa membantu ibu mencari uang. Awalnya aku memang kewalahan mengatur jadwal sekolah dan kerja tapi lama-lama aku mulai terbiasa dan kini aku sangat menikmatinya. Dan tak terasa 6 bulan aku jalani sekolah dan bekerja. Uang hasil bekerja aku tabung dan sebagian aku berikan dan ibu. Hingga suatu hari kondisi kesehatan ibu mulai menurun. Ia jadi jarang masuk kerja dan akhirnya kena PHK lagi dari perusahaannya. Kini akulah jadi tulang punggung keluarga. Ibu memang sudah tua dan kondisinya tidak lagi kuat seperti dulu untuk bekerja di pabrik. Dan akhirnya dengan tabungan hasil bekerjaku selama 6 bulan ini aku jadikan modal ibu untuk berjualan di depan rumah. Warung kecil-kecilan, lumayan untuk uang makan sehari-hari. *** Setahun kemudian keadaan ibu semakin memburuk, bolak-balik ibu masuk rumah sakit. Ibu terkena radang usus. Selama ini ibu jarang memperhatikan kondisi kesehatanya. Yang ia pikirkan hanya bagaimana membesarkan anak-anaknya menjadi anak yang sukses sampai ia tidak memperhatikan pola makanya sendiri hingga harus terkena radang usus. Aku dan adikku bekerja sama dalam mengurus ibu. Jika malam aku bekerja ibu di urus adik sambil menjaga warung. Dan akhirnya beberapa bulan kemudian ibu harus meninggal. Langit bagaikan runtuh mendengar kabar tersebut saat aku masih bekerja. Dalam telephone terdengar Rani dengan suara terisak mengabarkan bahwa ibu meninggal dunia. Aku pun meminta izin pada atasanku di restoran untuk pulang karena ibu meninggal. Dadaku bergedup kencang. Air mata pun meleleh tanpa bisa di tahan. Ibu. Apa yang harus aku lakukan tanpa ibu?. Air mata terus berderai mengiringi kepergian ibu. Aku dan adiku saling menguatkan diri menghadapi ini semua. Dan bertekad untuk menjadi anak yang bisa dibanggakan. *** Hari ini adalah hari kelulusan sekolah dan aku menjadi lulusan yang terbaik di sekolah. Sepeninggal ibu aku berniat untuk menjadi anak yang bisa membanggakan orang tua walaupun ibu sudah tiada dan aku persembahkan lulusan terbaik ini untuk ibu. Siang malam aku bekerja keras untuk bisa mendapatkan hasil ini. siang aku sekolah dan malam aku masih bekerja. Di sela-sela saat sepi pengunjung di restoran aku belajar agar bisa mendapatkan nilai terbaik di sekolah. Air mata kembali meleleh saat mengingat ibu. Andai ibu masih ada, aku ingin melihat senyum ibu karena anaknya kini sudah lulus dengan nilai terbaik dan aku pun mendapatkan beasiswa untuk kuliah di universitas terbaik di kota ini. Setelah kuliah mungkin aku tidak dapat bekerja lagi di restoran karena jadwal kuliah yang bisa sampai sore tapi penghasilan dari warung yang di kelola oleh adikku sudah lebih dari cukup untuk kehidupan sehari-hari belum lagi aku masih ada tabungan dari bekerja selama 3 tahun kemarin. Keterpurukan membuat kami kuat dan bisa menghadapi segala masalah. Aku beruntung punya ibu yang kuat yang mengajarkan kami arti kesabaran dan bisa bertahan hidup dalam kesulitan. Dan adikku pun sekarang tumbuh menjadi anak laki-laki yang kuat. Jika dulu dia sering sakit-sakitan tapi kini tubuhnya di tempa menjadi anak yang tangguh. Warung yang dulu kecil sekarang kami menyewa tempat yang lebih besar untuk di jadikan warung grosir sekaligus rumah untuk kami tinggali dan kami juga mempekerjakan seorang karyawan untuk mengurus warung itu. Karena adikku siang masih harus sekolah dan sorenya baru dia bisa mengelola warung. Kini adikku sudah kelas 2 SMA tapi dia sudah belajar cara berbisnis dan rencana setelah lulus SMA dia akan mengambil kuliah jurusan bisnis untuk memantapkan lagi usahanya Sedangkan aku selesai kuliah berencana ingin menjadi guru sambil mencari beasiswa juga untuk ngambil kuliah S2 dan menjadi dosen. Aku ingin bisa bermanfaat untuk anak-anak generasi selanjutnya dan bisa menghasilkan generasi-generasi yang tangguh nantinya. THE END Baca juga ANAK MENJADI JALAN HIJRAH Sebuah kisah nyata Ini adalah pengalaman seorang ibu yang memilik 2 anak. Pernah tidak ibu-ibu …

Cerpen"Meraih Mimpi" 1. Meraih Impian Aku terduduk lemas, meringkuk di sudut kamarku, memegangi lutut tak berdosa ini, mencoba 2. menjawabnya,"Kau benar, Nak. Ya, percayalah Nanda, kamu pasti bisa!". Tawaran dari fakultas 3. Malamnyaaku membantubundamenyelesaikanpesanan.Adik-adikku juga

Cerpen Karangan MuallifahKategori Cerpen Motivasi, Cerpen Perjuangan Lolos moderasi pada 9 December 2016 Sindi gadis cantik dan cerdas, ia terlahir dari keluarga kurang mampu. Ayahnya telah meninggal saat ia masih duduk di bangku SMP kelas 3. Sindi anak pertama dari tiga bersaudara, kini ia hanya tinggal bersama ibu dan kedua adiknya yang masih duduk di bangku SD. Pekerjaan ibunya sehari-hari sebagai buruh tani. Saat ini Sindi duduk di SMK Farmasi Bojonegoro, biaya sekolahnya cukup mahal. Sehingga membuat Sindi harus bekerja di sebuah Perumnas. Majikannya sangat baik hati semua biaya sekolah ditanggung olehnya. Sindi kini tinggal bersama majikannya untuk mengurus rumah sang majikan. Di sekolah Sindi terkenal siswa yang sangat tanggap dalam proses belajar. Semua perhatian guru tertuju padanya, sehingga banyak siswa yang iri. Setiap harinya selalu mendapat ejekan dari teman sekolahnya. Tapi tidak semua temannya memperlakukannya seperti itu. Nadia teman yang selalu ada di sampingnya. Nadia berbeda dari Sindi yang hanya anak buruh tani. Nadia terlahir dari keluarga yang kaya tapi Nadia tak pernah menyombongkan diri. Kedekatan mereka sudah seperti saudara sendiri. Jarum jam menunjukan pukul pagi Sindi bangun dari tidurnya dan mengambil air wudhu untuk melakukan sholat tahajud, diakhir sholat tidak lupa ia berdoa meminta keinginan yang sangat ingin dicapainya. Selesai berdoa ia ke dapur mengambil sepiring nasi dengan lauk tempe, dimakannya dengan lahap untuk sahur. Lalu ia mengambil buku pelajaran untuk dibacanya sambil menunggu sholat subuh. Kegiatan ini dilakukan setiap hari, Udara pagi begitu sejuk dan mentari dipagi hari selalu mendukung aktivitasnya. Setelah semua kegiatan telah terselesaikan ia berangkat sekolah dengan mengayuh sepeda yang jarak dari rumah ke sekolah sekitar 2 km. Sampai di sekolah ia masuk dan mengikuti pelajaran yang akan segera dimulai. Bel masuk berbunyi jam pertama dimulai tapi saat itu guru pengajarnya tidak hadir. Tiba-tiba tiga cewek datang menghampiri Sindi dan menariknya ke luar menuju kamar mandi. Sindi hanya terdiam tak berani membantah. Nadia yang tahu akan hal itu langsung mengikutinya dari belakang. “Dasar cewek sialan!” bentak salah satu cewek dari ketiga cewek itu “Apa salahku sampai kalian ngebuli aku terus?” tanya Sindi sambil menangis “Eh… gembel. Kamu seharusnya tahu kalau yang dipuji-puji semua guru itu aku bukan kamu. Kamu itu gak pantas diperlakukan seperti itu.” Bentak cewek tadi Sindi hanya terdiam dan tak bisa berkata apapun pada mereka. Nadia datang menghampiri mereka, Nadia pun menghentikan perkataan yang diucapkan oleh ketiga cewek itu, dan mereka bertiga pergi meninggalkan Nadia dan Sindi. “Kamu tidak apa-apa kan Sin?” tanya Nadia Sindi hanya menggelengkan kepalanya, Nadia pun memeluk Sindi dan membawanya kembali di kelas. Hari-hari mereka lalui dengan penuh canda tawa dan suka cita bersama. Sampai tiba saatnya detik kelulusan sekolah, Hal itu membuat para siswa dalam tangisan bahagia dan duka. Sindi dan Nadia akhirnya lulus dan keduanya saling berpelukakan untuk perpisahan pertemuan mereka. Yang membuat bangga nilai ujian Sindi tertinggi nomor dua dari seluruh siswa di Indonesia. Sehingga ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke Universitas Gajah Mada impiannya selama ini. Tapi ia juga ingin sekali mencari pekerjaan yang lebih baik untuk ibu dan kedua adiknya. Sindi tak bekerja lagi di rumah majikannya, sebelum pergi tak lupa ia menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan yang diberikan majikannya selama ini. Ia pun melamar pekerjaan di perusahaan “Kable Farma” sebagai detailer. Walau jarang orang bercita-cita menjadi detailer, tak mudah pula untuk memasukinya. Persyaratan menjadi tenaga pemasar farmasi sangat rumit seperti memiliki kepribadian yang menarik, fisik dan mental yang kuat, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, sehat jasmani dan rohani dengan melalui tes kesehatan maupun psikotest. Banyak saingan tidak membuat ia mundur begitu saja, tapi menambah semangat untuk mendapatkan pekerjaan itu. Setelah berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai detailer selanjutnya ia menjalani serangkaian pelatihan yang terdiri medical knowledge, produk knowledge, selling skill, dan peraturan perusahaan. Bila sudah lulus pelatihan ia akan ditugaskan di berbagai kota dan daerah di seluruh Indonesia. Beruntungnya ia ditempatkan di daerah Yogyakarta dimana tempat ia kuliah. Pagi sampai sore ia kuliah dan sore sampai malam bekerja, itu dilakukan setiap harinya. Belum lagi tugas kuliah yang menumpuk, tetapi ia melakukannya dengan ikhlas dan senang hati. Ditengah kesehariannya ia juga mengunjungi panti asuhan untuk memberi bantuan dengan apa yang dimilikinya. Sindi meluangkan waktunya untuk bermain dan berbagi ilmu dengan anak-anak panti asuhan Perhatian serta kasih sayangnya terhadap mereka sangat tulus dan begitu akrab. Wajah mereka seakan berubah saat Sindi pergi meninggalkan panti. Semangatnya seakan tenggelam dalam lautan. “Adek-adek kakak pulang dulu ya, besok kalau ada waktu kakak pasti kesini.” “Kok gitu sih kak, kami masih mau main dan belajar bersama kakak” kata salah satu anak panti tersebut. “Nggak boleh sedih gitu dong, nanti kakak ikut sedih. Mana semangat kalian” kata Sindi. “Iya kak kita gak sedih lagi, kakak hati-hati ya kalau pulang” jawab anak itu Sindi pun menuju kost dan beristirahat sejenak untuk menghilangkan capek. Kebiasaan buruk selalu dilakukan kembali yaitu tidur sambil membaca, ia pun tertidur lelap. Malam harinya ia berangkat bekerja dengan mengendarai motor dengan kecepatan 50 km/jam. Di tengah perjalanannya mulai terasa capek dan mengantuk. Braaaaak…!!! Tiba–tiba menabrak sebuah bus yang ada di depannya dari arah berlawanan ia terpental mengenai truk di belakangnya dan jatuh di jalan, darah segar keluar deras, matanya buram seakan tak bisa melihat apa yang telah dialami. Mobil ambulan segera datang dan membawa Sindi menuju rumah sakit untuk mendapatkan penanganan segera. Setelah sampai ia pun dibawa di ruang UGD, dokter dan perawat bergegas menanganinya dengan cepat. Ibu Sindi mendapat kabar tersebut langsung pergi menuju rumah sakit dimana anaknya dirawat walaupun harus menempuh jarak jauh. Selesai ditangani dengan segera, dokter memberitahukan bahwa kaki kanan Sindi harus segera diamputasi. Karena lama menunggu, dokter menghubungi ibunya Sindi untuk meminta keputusan. Tak berpikir panjang sang ibu menyetujuinya. Kemudian operasi dilakukan dengan segera karena biaya operasi juga sudah ditanggung oleh perusahaan di mana Sindi bekerja. Beberapa jam kemudian operasi berhasil dilakukan. Sindi kemudian dipindahkan ke ruang perawatan. Ia berada di ruang perawatan seorang diri tanpa ada yang menemani karena sang ibu belum sampai di rumah sakit. Pagi hari ibunya baru sampai rumah sakit karena keadaan jalan yang macet. Ibunya hanya bisa meneteskan air mata tak tega melihat sang putri kesayangannya berbaring lemah. Nadia yang tahu berita bahwa Sindi kecelakaan langsung menghampirinya di rumah sakit. Sampai di sana Nadia hanya bertemu dengan ibu Sindi, Sindi pun baru siuman dan ia kebingungan dengan keadaan ruangan yang ia tempati selain itu ada juga Nadia dan ibunya yang hadir di sebelahnya. “Ibu, Nadia ada apa kok pada ngumpul, trus ini aku di mana?” tanya Sindi bingung “Kamu ada di rumah sakit kemarin kamu kecelakaan” jawab Nadia Sindi kaget kemudian ia mengingat kejadian kemarin saat ia mencoba menggerakkan anggota badannya. Di situlah ia merasakan keganjalan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada kaki kanannya. Ia pun membuka kakinya yang tertutup selimut. Setelah melihat apa yang terjadi ia menjerit shok dan menangis, ibunya memeluk dan Nadia berusaha menenangkannya. “Sin, semua udah terlanjur aku yakin cobaan ini pasti ada hikmahnya, kamu harus tetap optimis kejar impianmu. Anggap saja ini ujian dibalik kesuksesanmu, percayalah Allah tidak akan menguji hambanya melampaui batas kemampuan umatnya” kata Nadia “Terima kasih Nad kamu selalu ada buat aku dan selalu mengingatkanku” sahut Sindi. “Sama-sama” jawab Nadia Nadia memeluk Sindi dengan erat, beberapa hari setelah keadaan Sindi membaik ia diperbolehkan untuk pulang. Setelah beberapa hari Sindi kembali bekerja lagi, tetapi atasannya tidak bisa menerimanya lagi karena fisiknya yang tak sempurna. Atasannya kurang yakin dengan kondisinya sekarang yang tak memungkinkan untuk bekerja kembali. Sindi terus memohon dan meminta kesempatan untuk membuktikan bahwa ia layak untuk tetap bekerja walaupun dengan satu kaki. Akhirnya dengan begitu Sindi diterima kembali. Pekerjaannya dilakukan dengan tekun dan membuat atasannya merasa bangga kepadanya. Hari pertama saat ia kembali bekerja cobaan selalu datang menghampirinya. Di kantornya ada salah satu teman yang tidak menyukainya kalau Sindi selalu dipuji atasnnya. Tiba saatnya Sindi difitnah bahwa ia mencuri uang perusahaan. Kemudian ia dibawa ke kantor polisi untuk ditindak lanjuti, di penjara Sindi tidak pernah berhenti berdoa dan sholat malam untuk memohon petunjuk. Selang beberapa hari telah terungkap kejadian yang sebenarnya. Kini dia merasa senang karena semua doanya terkabul, salah satu rekan kerja yang selalu dekat dengannya tahu kejadian yang sebenarnya dan melapor pada atasannya agar Sindi segera dibebaskan. Dan ia akhirnya bisa kembali bekerja dan belajar lagi. Sindi mulai belajar mengendarai motor dengan satu kaki, dan akhirnya terbiasa. Sampai sekarang ia tetap kuat menjalaninya. Di sisi lain musibah datang berturut-turut bangunan yang telah dibelinya digusur oleh Negara karena tanah yang ditempati masih hak milik Negara. Ia telah kehilangan puluhan juta untuk membeli bangunan itu. Tawakal dan tabah selalu ia tanamkan dalam hati dan selalu bersyukur atas nikmat yang diberikannya. Walapun masalah datang silir berganti, tak membuatnya lelah dan menyerah terhadap masalah yang datang. Setelah lama bekerja ia mengambil hari untuk cuti dan pulang ke halaman rumah menemui sang ibu untuk menghilangkan rasa kangennya. Di sana ia menghabiskan waktunya bersama adik dan ibunya. Dulu hidupnya tak seperti sekarang, untuk membeli secarik kain tak pernah ia dapatkan, tapi kini berbeda semua yang diinginkan adik-adiknya pasti dibelikan. Setelah selesai berlibur Sindi kembali ke Yogyakarta. Memulai tugasnya sebagai mahasiswi dan pekerja. Kini ia sudah menempati semester ke 8 sebentar lagi pelaksanaan ujian kelulusan. Tiba saatnya Sindi terus berdoa dan belajar demi meraih kelulusan dan gelar sebagai apoteker. Setelah terlewati masa ujian kini hanya menunggu pengumuman kelulusan. Irama jantung bergetar cepat seakan ia dikejar seekor srigala, raut wajah gelisah, keringat dingin keluar deras. Sindi yang duduk di sebelah ibunya di aula memegang erat tangan sang ibu dan terus berdoa, tak henti kata solawat terucap di bibirnya. Pengumuman dinyatakan lulus semua dan dibacakan yang akan mendapat nilai tertinggi, ternyata Sindi salah satu mahasiswi yang mendapat kemenangan. Ia mendapat banyak tawaran untuk bekerja. Tapi ia tetap setia bekerja sebagai detailer. Ibunya terus membujuknya agar berpindah pekerjaan karena ibunya tidak tega melihat sang anak kesulitan bekerja dengan satu kaki. Akhirnya ia menerima tawaran di rumah sakit sebagai apoteker. Setelah beberapa tahun, ia mendapat tawaran di Amerika. Ia pun mengambil tawaran itu dengan izin sang ibu. Tiba saatnya berangkat ke Amerika ia menyiapkan segala yang akan dibawanya. dimana mimpinya kini terwujud. Kehidupannya kini berubah drastis. Setelah bekerja di Amerika. Ia bertempat tinggal di sana hanya sementara. Di Amerika ia bertemu dengan seorang pria tampan yang berprofesi sebagai dokter yang bernama Marcell. Kedekatan mereka mulai terlihat. Marcell mulai mendekati Sindi. Setelah lama saling mengenal dan tahu isi hati mereka akhirnya direncanakan hari pernikahan. Pernikahan akan dilaksanakan di Indonesia. Ibunya sangat bangga memiliki seorang putri yang selalu berjuang untuk meraih mimpi. Kini Sindi berhasil meraih cita dan cintanya yang selama ini ia impikan. “Jadikan impianmu sebagai mimpi yang kenyataan, jangan hanya sekedar mimpi tapi tidak kau perjuangkan. Sekurang apapun diri kita jika kita memiliki semangat dan kemauan pasti akan terwujud segala mimpimu, berdoa, tirakat dan berusaha adalah salah satu kunci menuju sukses. cinta memang penting tapi ketahuilah bahwa cinta akan datang dengan sendirinya setelah kamu berhasil meraih cita-citamu.” Cerpen Karangan Muallifah Facebook Muallifah Cerpen Perjuangan Meraih Mimpi merupakan cerita pendek karangan Muallifah, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Senyum Terakhir Ibu Oleh Ayu Gita Pagi ini, di saat matahari belum terlihat jelas, seorang pemuda telah sibuk menyiapkan kotak semir yang akan dibawanya untuk mengais rezeki. Pemuda itu bernama Ardit. Umurnya baru 16 tahun, Kisah Sukses Berkat Selendang Ibu Oleh Alto Faot Sebelum ayam berkokok dan pagi belum merekah Adi sudah bangun membantu ibunya membuat kue untuk dijual. Seperti hari-hari biasa Adi harus berjalan kaki menjual kuenya, meskipun gelap masih menutupi Merajut Mimpi Sang Tholabul Ilmi Oleh Andre Abidin Langit malam indah dengan sinar indurasmi, bersama gugusan bintang penghias malam. Desir angin membawa kesunyian yang sejuk di jagat pesantren. Di sebuah bangunan yang sering digunakan sebagai tempat beribadah, Terima Kasih 10 Tahun Lalu Oleh Hotma Lam Uli Marbun Langit mulai berubah warna, matahari perlahan mulai tenggelam dalam peluk awan. Sekiranya ia datang jauh lebih cepat layaknya ia saat pertama kali mendapat tugas dari perusahaan tempat ia sekarang Saat Nisa Mengatakan Bisa Oleh Nur Faisah Cempreng Dan Cuek itulah karakter utama dari seorang Nisa.. Siswa yang mempunyai Cita-cita Yang tinggi Ingin menjadi sastrawan Yang sukses.. Namun Keinginan Itu Haruslah ia pendam Karena Takut ditertawai “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?" .
  • 2rk6y02wso.pages.dev/396
  • 2rk6y02wso.pages.dev/113
  • 2rk6y02wso.pages.dev/104
  • 2rk6y02wso.pages.dev/123
  • 2rk6y02wso.pages.dev/178
  • 2rk6y02wso.pages.dev/309
  • 2rk6y02wso.pages.dev/401
  • 2rk6y02wso.pages.dev/365
  • cerpen tentang perjuangan meraih mimpi